10 Kebiasaan yang Dapat Merusak Otak

Juli 6, 2007 at 11:00 am (kesehatan)

1. Tidak Sarapan Pagi
Mereka yang tidak mengkonsumsi sarapan pagi memiliki kadar gula darah yang rendah, yang akibatnya suplai nutrisi ke otak menjadi kurang.

2. Makan Terlalu Banyak
Terlalu banyak makan, apalagi yang kadar lemaknya tinggi, dapat berakibat mengerasnya pembuluh darah otak karena penimbunan lemak pada dinding dalam pembuluh darah. Akibatnya kemampuan kerja otak akan menurun.

3. Merokok
Zat dalam rokok yang terhisap akan mengakibatkan penyusutan otak secara cepat, serta dapat mengakibatkan penyakit Alzheimer.

4. Mengkonsumsi Gula Terlalu Banyak
Konsumsi gula yang terlalu banyak akan menyebabkan terganggunya penyerapan protein dan nutrisi, sehingga terjadi ketidakseimbangan gizi yang akan mengganggu perkembangan otak

5. Polusi Udara
Otak adalah konsumen oksigen terbesar dalam tubuh manusia. Menghirup udara yang berpolusi menurunkan suplai oksigen ke otak sehingga dapat menurunkan efisiensi otak.

6. Kurang Tidur
Otak memerlukan tidur sebagai saat beristirahat dan memulihkan kemampuannya. Kekurangan tidur dalam jangka waktu lama akan mempercepat kerusakan sel-sel otak.

7. Menutup Kepala Saat Tidur
Kebiasaan tidur dengan menutup kepala meningkatkan konsentrasi zat karbondioksida dan menurunkan konsentrasi oksigen yang dapat menimbulkan efek kerusakan pada otak.

8. Menggunakan Pikiran Saat Sakit
Bekerja terlalu keras atau memaksakan untuk menggunakan pikiran kita saat sedang sakit dapat menyebabkan berkurangnya efektifitas otak serta dapat merusak otak.

9. Kurang Menstimulasi Pikiran
Berpikir adalah cara yang paling tepat untuk melatih otak kita. Kurangnya stimulasi pada otak dapat menyebabkan mengkerutnya otak kita.

10. Jarang Berkomunikasi
Komunikasi diperlukan sebagai salah satu sarana memacu kemampuan kerja otak. Berkomunikasi secara intelektual dapat memicu efisiensi otak. Jarangnya berkomunikasi akan menyebabkan kemampuan intelektual otak jadi kurang terlatih.

Dari berbagai sumber

Permalink Tinggalkan sebuah Komentar

Menjadi Ayah

Juli 6, 2007 at 10:48 am (keluarga)

Ketika membaca surat Luqman/31:13 apakah yang terbersit dalam pikiran kita? Dan (ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya, di waktu ia memberi pelajaran kepadanya: “Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar (Luqman/31:13). Biasanya yang muncul dalam pikiran kita adalah adanya keharusan menanamkan nilai-nilai tauhid dalam mendidik anak. Allah sebagai satu-satunya sesembahan, tempat menghamba dan mengabdikan diri. Adakah pikiran lainnya?

Ketika kita membaca surat Shaffat/37:102, apakah yang terbersit dalam pikiran kita? Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata: “Hai anakku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka fikirkanlah apa pendapatmu!” Ia menjawab: “Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar (Shaffat/37:102). Biasanya yang muncul dalam pikiran kita adalah kehebatan nabi Ibrahim yang rela mengorbankan anak yang sangat dicintainya untuk menunaikan perintah Allah swt, sekaligus sebagai bukti bahwa Ibrahim lebih mengutamakan cinta kepada Allah swt daripada cinta kepada anaknya. Atau kehebatan kesabaran nabi Ismail as yang rela menjadi korban untuk terlaksananya perintah Allah swt.

Salah satu yang muncul dari pencermatan saya ketika membaca kedua ayat di atas adalah peran ayah sebagai pendidik. Luqman sebagai ayah tidak hanya memenuhi kebutuhan material keluarganya, tetapi juga Beliau menanamkan nilai-nilai mendasar dalam kehidupan seorang anak, yaitu mentauhidkan Allah swt. Ibrahim as telah menyiapkan puteranya untuk siap mengabdikan dirinya kepada Allah swt. Ibrahim telah berhasil mendidik puteranya agar mengutamakan kecintaan kepada Allah swt daripada kecintaan terhadap dirinya sendiri. Ibrahim telah memperlihatkan kepada kita bagaimana mendidik anak menuju kekedewasaan.

Bagaimana fungsi kita sebagai seorang ayah?

Setelah shalat shubuh seorang ayah sudah persiapan berangkat kerja, sekitar pukul 06.00 sudah berangkat kerja, dan sore hari sekitar pukul 16.00 pulang ke rumah. Setelah shalat magrib atau ‘isya berangkat lagi  untuk mencari penghasilan tambahan atau untuk memenuhi kegiatan-kegiatan sosial, sekitar pukul 21.00 pulang, setelah itu istirahat (tidur). Kegiatan ini berlangsung rutin dari hari ke hari, bulan ke bulan, dan tahun ke tahun untuk memenuhi kewajiban  sebagai pencari nafkah keluarga.

Dari rutinitas kehidupan seorang ayah dapat dilihat bahwa seorang ayah memiliki waktu sekitar 2 jam pada hari efektif untuk bersama dengan keluarga di luar hari-hari libur. Hal ini jika diasumsikan tidak ada pekerjaan kantor yang dibawa ke rumah. Lalu dapatkah kita menanamkan nilai-nilai ketahuidan sebagaimana Luqman telah melakukannya? Adakah waktu bagi kita untuk menanamkan kecintaan kepada Allah di atas kecintaan terhadap dirinya sendiri sebagaimana dilakukan Ibrahim as?

Perlu disadari bahwa jika seorang ayah hanya berupaya memenuhi kebutuhan-kebutuhan material, maka kedekatan-kedekatan yang ada hanya sebatas kedekatan material. Artinya seorang ayah hanya diharap materinya oleh anak. Kasih sayang ayah dipersepsi anak sebagai pemberian materi, jika tidak memberi materi berarti tidak menyayangi. Hal ini akan mengakibatkan hubungan ayah dengan anak terasa gersang.

Idealnya seorang ayah memiliki waktu yang cukup untuk bersama keluarganya, karena banyaknya kedekatan fisik lebih memungkinkan terjadinya kedekatan emosional. Keinginan-keinginan ayah lebih difahami oleh anak, begitu juga sebaliknya keinginan-keinginan anak lebih bisa difahami oleh ayah. Nilai-nilai yang ingin ditanamkan seorang ayah akan terbaca oleh anak dalam aktivitas keseharian. Jika seorang ayah berangkat ke masjid setiap mendengar adzan, maka secara psikologis seorang anak sudah merasa disuruh berangkat ke masjid setiap adzan. Jika ayah mengingatkan isterinya dengan cara memarahinya,  maka anak pun akan menangkap bahwa cara mengingatkan itu dengan memarahi. Setiap aktivitas yang dilakukan ayah di hadapan anak, akan selalu menjadi pelajaran bagi anaknya.

Realitas kehidupan saat ini sangat sedikit ayah yang memiliki waktu yang cukup untuk keluarganya. Apa yang bisa dilakukan seorang ayah agar dapat menanamkan nilai-nilai yang diyakininya kepada anak?

1. Punya Visi

Setiap orang akan diarahkan oleh visinya, visi sebagai pribadi memang jarang diungkapkan secara eksplisit sebagaimana sebuah lembaga. Jika visi kita bersifat duniawi, maka usaha-usaha yang dilakukan pun akan bersifat duniawi semata. Mungkin saja dia aktif dalam organisasi dakwah, tetapi semua itu untuk kepentingan pencapaian visi yang bersifat dunia itu. Jika visi yang kita miliki bernuansa ukhrawi, maka uasaha yang kita lakukan pun akan diarahkan untuk mencapainya. Jika dia bekerja (untuk mencari uang) kerangkanya untuk meraih visinya. Sudahkah ada dalam visi kita untuk menjadikan anak-anak kita shaleh/shalehah?

2. Berdo’a

Ada kekuatan besar yang seringkali sulit dipahami dalam tataran kemanusiaan, yaitu kekuasaan Allah swt. Oleh sebab itu meminta kepadaNya akan menambah keyakinan  untuk meraih sesuatu yang diinginkan. Sudah ada redaksi yang Allah sebutkan dalam Al Qur’an,Dan orang orang yang berkata: “Ya Tuhan kami, anugrahkanlah kepada kami isteri-isteri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa’(Al Furqan/25:74). Adakah bayangan isteri dan anak-anak dalam bayangan kita ketika berdo’a kepada Allah swt?

3. Peningkatan kualitas pertemuan

Menjadikan waktu pertemuan sebagai sesuatu yang berharga untuk berkomunikasi dengan anak. Sebab melalui komunikasi keinginan-keinginan orang tua akan terbaca anak dan keinginan-keinginan anak akan terbaca oleh orang tua. Ini berarti bahwa waktu di rumah tidak hanya dimanfaatkan untuk istirahat, tetapi sebaliknya meminimalkan waktu istirahat untuk berkomunikasi sebelum anak-anak istirahat. Sudahkah kita meminimalkan waktu istirahat untuk kepentingan berkomunikasi dengan anak?

Selamat menjadi ayah, semoga sukses !

Penulis: Ust. Ahmad Hariyadi, MSi

 

Permalink Tinggalkan sebuah Komentar

Visi Profetis dalam Pendidikan

Juli 5, 2007 at 6:00 pm (Kajian, Pendidikan)

 

            Dalam sebuah riwayat Al-Hakim Rasulullah pernah ditanya sahabat tentang bagaimana akhlak beliau demikian mulia. Saat itu beliau menjawab, “Tuhanku-lah yang mendidikku dengan pendidikan yang terbaik.”

            Sebagai orang tua, praktisi pendidikan, ataupun saat itu kita sendiri yang menjalani proses pendidikan dan pembelajaran, perlu untuk selalu ingat bahwa campur tangan Allah juga sangat kita butuhkan demi keberhasilan pendidikan kita dalam makna yang seutuhnya.

            Kita tidak dapat menutup mata kalau orientasi pendidikan kita selama ini sangat menekankan aspek kognisi yang terkait erat dengan kecerdasan intelektual. Ini tentu kita butuhkan. Tetapi manusia yang menjalani pertumbuhan kejiwaan yang utuh bukan mereka yang semata menjadi output pendidikan yang berotak encer. Yang diharapkan adalah mereka yang dengan kecerdasannya juga memiliki rasa tanggung jawab sosial dan sensifitas spiritual.

            Dalam konsepsi Islam, pendidikan yang manapun harus diarahkan kepada pembentukan pribadi mukmin. Mereka yang tidak hanya memiliki kecanggihan menghimpun konsep teoritis di otaknya, tetapi kepekaan sosial dan hubungan yang harmonis dengan Allah. Karena jika capaian ini tidak diwujudkan, akan terlahir output pendidikan yang asosial dan mengalami kegamangan hidup.  

            Sebuah proses pendidikan harus memiliki visi supaya terarah. Di dalam Al-Qur’an kita dapat melihat visi Nabi Ibrahim dalam mendidik keturunannya sebagai contoh. Visi itu beliau ungkapkan dalam bentuk harapan kepada Allah, “Aku akan menjadikanmu imam bagi seluruh manusia”. Ibrahim menjawab, “(Dan saya mohon juga) dari keturunanku”. Allah berfirman: “Janji-Ku (ini) tidak berlaku bagi orang-orang zhalim.” (QS. Al-Baqarah: 124)

            Beliau mengungkap harapan beliau terkait dengan Ismail, “Ya Tuhan kami, jadikanlah kami berdua orang yang tunduk patuh kepada Engkau dan (jadikanlah)  di antara anak cucu kami umat yang tunduk patuh kepada Engkau.” (QS. Al-Baqarah:128)

            Lebih lanjut beliau memohon kepada Allah untuk anak turun Ismail, “Ya Tuhan kami, utuslah untuk mereka seorang Rasul dari kalangan mereka , yang membacakan kepada mereka ayat-ayat Engkau, dan mengajarkan kepada mereka Al-Kitab dan Al-Hikmah serta mensucikan mereka.” (QS. Al-Baqarah: 129)

            Keresahan beliau ketika belum dikaruniahi keturunan adalah tanda tanya siapakah  pelanjut tugas risalah dan dakwah menyebarkan tauhid. Inilah yang mewarnai banyak doa-doa beliau terkait dengan anak. Setelah beliau menempatkan Ismail dan ibunya di Makkah beliau berdoa, “Ya Tuhan, jadikanlah negeri ini (Makkah), negeri yang aman, dan jauhkanlah aku serta anak cucuku agar tidak menyembah berhala.” (QS. Ibrahim:35)

            Orientasi ketauhidan ini menjadi komitmen para Nabi keturunan beliau. Seperti pertanyaan Nabi Ya’qub kepada seluruh anaknya menjelang beliau dipanggil kembali menghadap Allah, “Apa yang kalian sembah sepeninggalku?” (QS. Al-Baqarah: 133)

            Keresahan yang sama pula diadukan Nabi Zakaria kepada Allah, “Dan sungguh, aku khawatir terhadap kerabatku sepeninggalku, padahal istriku seorang yang mandul, maka anugerahilah aku seorang anak dari sisi-Mu, yang mewarisi aku dan mewarisi keluarga Ya’kub; dan jadikanlah dia wahai Tuhanku, seorang yang diridhai.” (QS. Maryam: 5-6)  

            Keresahan para Nabi akan keberadaan pelanjut risalah ketauhidan itu kemudian menghiasi doa-doa beliau tentang profil keturunan. Keresahan itu bukan terhadap keberadaan anak itu semata, tetapi yang terutama pelanjut dakwah dan penyebar tauhid di masa depan. 

            Kepedulian yang sama ditunjukkan oleh istri Imran dalam nadzar beliau yang terkenal, “Ya Tuhanku, sesungguhnya aku bernadzar kepada-Mu, apa (janin) yang dalam kandunganku (kelak) menjadi hamba yang mengabdi (kepada-Mu), maka terimalah (nadzar itu) dariku.” (QS. Ali Imran: 35)

            Dari nadzar itulah terlahir Maryam, ibunda Nabi Isa as. Allah menerima nadzar ibu mulia itu, “Maka Dia (Allah) menerimanya dengan penerimaan yang baik, mendidiknya dengan pendidikan yang baik dan menyerahkan pemeliharaannya kepada Zakaria.” (QS. Ali Imran: 37) Maryam tumbuh sebagai wanita suci dalam didikan Allah sendiri.

Dapat dikatakan para Nabi tumbuh dalam didikan Allah yang menempah jiwa mereka sehingga menjadi pribadi-pribadi tangguh perubah wajah sejarah. Nabi Musa juga tumbuh dalam didikan Allah semenjak kecil, “Aku telah melimpahkan kepadamu kasih sayang dari-Ku dan agar Engkau diasuh di bawah pengawasan-Ku.” (QS. Thaha: 39)

            Sebagian  kita mungkin berargumen, wajar saja para Nabi tumbuh dalam didikan Allah karena mereka memang telah disiapkan untuk itu. Sebenarnya, hal itu bukanlah masalah yang tidak bisa dipahami secara logis. Terlepas bahwa mereka adalah figur-figur yang sudah dipilih oleh Allah, maka ketika diri sudah berkomitmen untuk diserahkan sepenuhnya kepada Allah dalam menegakkan agamanya, maka Dia sendirilah yang akan menaungi dan membimbing.

            Ketika orang tua sudah menadzarkan dirinya sendiri maupun keluarganya demi  Allah, demi tegaknya ketauhidan kepada-Nya, maka Dia-lah sendiri yang akan menurunkan perlindungan dan petunjuk-Nya dalam perjalanan hidupnya serta istri dan seluruh keluarganya.

            Dalam kondisi pendidikan – bahkan pendidikan Islam sekalipun – yang sudah dipenuhi oleh pragmatisme, menggali visi tarbiyah para Nabi akan menyegarkan kegairahan ruhani kita dalam proses pendidikan dan pembinaan generasi. Selain itu, akan meluruskan kembali nuansa pendidikan umat Islam yang terjebak ke dalam formalisme tetapi kering dari ruh tauhid yang sesungguhnya.     

 

Penulis : Ust. Jon Hariyadi, MHI

Permalink Tinggalkan sebuah Komentar

Break the Limit

Juli 5, 2007 at 5:39 pm (motivasi)

Beberapa hari yang lalu saya berkesempatan memberikan training di Bandung. Karena acara dimulai jam 13.00 maka saya berangkat dari Jakarta pukul 9.30. Ketika mulai memasuki tol ke arah Sadang, di belakang saya ada sebuah mobil Lexus berwarna hitam yang melaju dengan kecepatan tinggi. Tetapi yang saya suka walaupun ia melaju dengan kecepatan tinggi, ia tidak memaksakan kehendak. Jika mobil di depannya tidak mau memberi jalan, maka ia yang mengalah dengan mengambil jalan ke kiri dahulu baru kemudian balik lagi ke jalur kanan.

Supaya tidak ngantuk karena saya menyetir sendirian dan tertarik dengan cara menyetir si mobil hitam ini, iseng-iseng saya membuntuti mobil tersebut dari belakang. Saya ikuti cara ia menyetir, termasuk kecepatannya. Ketika tidak ada mobil lain di tol, kecuali mobil
tersebut dan mobil saya, mobil hitam tersebut menambah kecepatannya. Karena sedang membututi, tanpa sadar saya ikut menambah kecepatan mobil saya. Ketika saya melihat panel kecepatan, menunjukkan angka 160 km/jam. Padahal selama ini, kecepatan tercepat yang pernah saya tempuh adalah 140 km/jam, saya tidak berani melaju di atas itu. Tapi dengan adanya mobil yang saya ikuti, saya bisa tembus rekor kecepatan mobil saya. Sesuatu yang sulit saya lakukan jika tidak ada sparringnya.

Karena saya berhenti di suatu tempat, saya kehilangan mobil hitam tersebut. Ketika saya mulai memacu kendaraan lagi, saya coba untuk berlari 160 km/jam lagi. Saya berhasil mencapai kecepatan tersebut tetapi tidak berani terlalu lama karena belum terbiasa. Ketika kemudian ada mobil lain lagi yang melaju dengan kecepatan tinggi dan saya buntuti, saya bisa masuk lagi ke 160 km/jam dengan durasi yang cukup lama.

Sama seperti kehidupan ini, seringkali kita merasa sudah maksimal melakukan sesuatu. Kita merasa tidak mungkin lagi melakukan sesuatu yang lebih baik lagi. Namun kalau kita mempunyai sparring partner yang lebih hebat dari kita, entah itu seorang atasan, seorang coach, seorang mentor, role model atau apapun, maka kita bisa terpacu untuk mendapatkan hasil yang lebih baik lagi.

Jika kita belum matang belajar dari sparring partner kita dan mencoba untuk mandiri, mungkin agak sulit bagi kita untuk terus berada di kondisi sama seperti ketika ada sparring partner. Nantinya jika kita sudah mempunyai pola dan terbiasa, barulah kita mulai bisa mandiri.

Robert Kiyosaki mengatakan bahwa penghasilan seseorang ditentukan 5 orang terdekatnya. Ilustrasi saya mengenai kecepatan mobil bisa menjelaskan pernyataan dari Robert Kiyosaki tersebut. Jika orang-orang di dekat kita hanya biasa-biasa saja, maka sulit bagi kita untuk melakukan sesuatu yang luar biasa. Namun kalau kita biasa tetapi di sekelilingnya luar biasa, maka kita akan terpacu untuk juga menjadi luar biasa.

Apakah ada penjelasannya secara Science? Ternyata ada. Di dalam otak manusia ada sekumpulan sel syaraf yang disebut Mirror Neuron, yang bertugas meniru apa yang dilakukan oleh orang lain. Jika di sekelilingnya orang hebat atau luar biasa, maka Mirror Neuron kita akan meniru mereka sehingga menjadikan kita juga hebat dan luar biasa. Kalau sebaliknya, maka Mirror Neuron-pun juga akan meniru yang sebaliknya.

- Siapa mobil hitam yang akan anda ikuti agar bisa menembus kecepatan anda selama ini?
- Siapa orang hebat dan luar biasa yang akan anda ikuti agar bisa menembus batas yang selama ini membatasi hidup anda?

Temukan orang tersebut, ikuti dan pelajari bagaimana ia memandang dirinya, bagaimana keyakinan dan nilai-nilai kehidupan yang ia pegang, bagaimana ia membangun kapabilitasnya, bagaimana tingkah lakunya, maka anda akan mendobrak batas yang selama ini membatasi hidup anda.

 oleh: Norman Firman, MM., MBA., CBA

 

Sumber: fosi@yahoogroups.com

Permalink 1 Komentar

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.